SilsilahAl-Syaikh Al-Imam Nawawi Al-Bantani: Al-Syaikh Nawawi Al-Bantani (Nama asli beliau adalah Abu abdulmu'thi) bin Umar bin 'Arobi bin 'Ali bin Jamad bin Janta bin Masbugel bin Maskun bin Masnun bin Maswi bin Sulthon Sunyararas Tajul'arsy bin Sulthon Maulana Hasanuddin Banten bin Maulana Syarif hidayatullah bin Sulthon Abdullah bin Ali Nuruddin/ 'Ali Nurul 'Alam bin Maulana Ibrohim Zainal
SyekhMaulana Mansyuruddin atau biasa dikenal Sultan Haji beliau adalah seorang 'ulama / Sultan ke 7 Banten berdarah bangsawan Banten putra dari Sultan Ageng Tirtayasa SILSILAH - SILSILAH ULAMA BESAR BANTEN; Syekh Maulana Mansyur Banten Halaman ini terakhir diubah pada 25 September 2021, pukul 19.38. Teks tersedia di bawah Lisensi
SilsilahSyekh Utsman Dlomiri dan Silsilah keluarga Sayyidi Syeikh Utsman Dhomiri, maka kami dengan segala kerendahan hati dan tidak bermaksud untuk menonjolkan sanad kami. Karena kami paham betul bahwa sesungguhnya, pada hakikatnya, semua adalah satu, sama-sama Murid, Ikhwan, Ashab, Fuqoro AT TIJANIYAH.
SILSILAHSULTAN YANG MEMERINTAH DI BANTEN 1. Syarif Hidayahtullah Susuhunan Gunung Jati *) 2. Maulana Hasanuddin Panembahan Surosowan 1552-1570 3. Maulana Yusuf Panembahan Pakalangan Gede 1570-1580 4. Maulana Muhammad Pangeran Ratu Ing Banten 1525-1552 5. Sultan Abul Mafachir Mahmud Abdul Kadir Kenari 1580-1596 6. Sultan Abul Ma'ali Ahmad 1596-1651 7. Sultan []
SyaikhMuhammad Yusuf Al-Kandahlawi lahir pada 25 Jumada I, 1335 H, sesuai dengan 20 Maret 1917 di Kandahla di India. Keluarganya terkenal dengan keilmuan dan kesetiaan total dalam perjuangan Islam. Ayahnya, Syaikh Muhammad Ilyas Al-Kandahlawi (wafat 1943), memainkan peranan penting dalam gerakan pemurnian yang dipimpin oleh dua ulama, Ahmad
Laduni Kabupaten Pemalang terletak di pantai utara Pulau Jawa, secara astronomis kabupaten ini terletak antara 109°17'30-109°40'30 BT dan 6°52'30" - 7°20'11" LS, luas Wilayah nya sebesar 111.530 km2. Syekh Maulana Syamsudin Memiliki Nama lengkap Sayyid Hasan Syamsudin bin Awwad Al Alawi.Beliau di lahirkan pada sekitar tahun 1700 M atau
SyekhJangkung lahir pada pertengahan abad 15. Ibunda Syekh Jangkung merupakan keponakan dari Sunan Kudus. Ayahanda beliau adalah Syekh Abdul Hasif yang berasal dari TImur Tengah. Dok : Perjalanan 3 Wanita Trans TV. Liputan dilakukan sebelum masa Pandemi Covid 19.
SUNNI "Saya sudah bilang, al-Albani tidak dapat dipercaya. Dalam kitab al-Tawassul, al-Albani melemahkan hadits di atas, juga karena alasan Amr bin Malik al-Nukri. Tapi dalam kitab yang lain, al-Albani justru menilai Amr bin Malik al-Nukri seorang perawi yang tsiqah. Kalau tidak percaya, Anda cek kitab Silsilah al-Ahadits al-Shahih juz 5 hal
HSwy. Mawlānāsysyāikh Tuan Guru Kyai Hajjī Muhammād Zainuddīn Abdul Madjīd sing. Hamzanwadi adalah seorang ulama karismatis dari Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat dan merupakan pendiri Nahdlatul Wathan, organisasi massa Islām terbesar di provinsi tersebut. Di pulau Lombok, Tuan Guru merupakan gelar bagi para pemimpin agama yang bertugas untuk membina, membimbing dan mengayomi umat Islām dalam hal-hal keagamaan dan sosial kemasyarakatan, yang di Jawa identik dengan Kyai. Kelahiran Muhammād Zainuddīn Abdul Madjīd' dilahirkan di Kampung Bermi, Pancor, Selong, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat pada tanggal 17 Rabiul Awwal 1316 Hijriah bertepatan dengan tanggal 5 Agustus 1898 Masehi dari perkawinan Tuan Guru Hajjī Abdul Madjīd beliau lebih akrab dipanggil dengan sebutan Guru Mu'minah atau Guru Minah dengan seorang wanita shālihah bernama Hajjah Halīmah al-Sa'dīyyah. Nama kecil beliau adalah 'Muhammād Saggāf', nama ini dilatarbelakangi oleh suatu peristiwa yang sangat menarik untuk dicermati, yakni tiga hari sebelum dilahirkan, ayahandanya, TGH. Abdul Madjīd, didatangi dua walīyullāh, masing-masing dari Hadhramaũt dan Maghrabī. Kedua walīyullāh itu secara kebetulan mempunyai nama yang sama, yakni "Saqqāf". Beliau berdua berpesan kepada TGH. Abdul Madjīd supaya anaknya yang akan lahir itu diberi nama "Saqqāf", yang artinya "Atapnya para Wali pada zamannya". Kata "Saqqāf" di Indonesiakan menjadi "Saggāf" dan untuk dialek bahasa Sasak menjadi "Segep". Itulah sebabnya beliau sering dipanggil dengan "Gep" oleh ibu beliau, Hajjah Halīmah al-Sa'dīyyah. Setelah menunaikan ibadah hajjī, nama kecil beliau tersebut diganti dengan 'Hajjī Muhammād Zainuddīn'. Nama inipun diberikan oleh ayah beliau sendiri yang diambil dari nama seorang 'ulamā' besar yang mengajar di Masjīd al-Harām. Akhlāq dan kepribadian ulamā' besar itu sangat menarik hati ayahandanya. Nama ulamā' besar itu adalah Syaīkh Muhammād Zainuddīn Serawak, dari Serawak, Malaysia. Silsilah Menurut sejumlah kalangan bahwa asal usulnya dari keturunan orang-orang terpandang, yakni dan keturunan sulthān-sulthān Selaparang, sebuah kerajaan Islām yang pernah berkuasa di Pulau Lombok. Disebutkan bahwa Tuan Guru Kyai Hajjī Muhammād Zainuddīn Abdul Madjīd merupakan keturunan Kerajaan Selaparang yang ke-17. Pendapat ini tentu saja paralel dengan analisis yang diajukan oleh seorang antropolog berkebangsaan Swedia bernama Sven Cederroth, yang merujuk pada kegiatan ziarah yang dilakukan Tuan Guru Kyai Hajjī Muhammād Zainuddīn Abdul Madjīd ke makam Selaparang pada tahun 1971, sebelum berlangsungnya kegiatan pemilihan umum Pemilu. Praktik ziarāh semacam ini memang bisa dilakukan oleh masyarakat Indonesia pada umumnya, termasuk masyarakat Sasak, untuk mengidentifikasikan diri dengan leluhurnya. Disamping itu pula, Tuan Guru Kyai Hajjī Muhammād Zainuddīn Abdul Madjīd tidak pernah secara terbuka menyatakan penolakannya terhadap anggapan dan pernyataan-pernyataan yang selama ini beredar tentang silsilah keturunannya, yakni kaitan genetiknya dengan sulthān-sulthān Kerajaan Selaparang. Keluarga Maulānāsysyāikh TGKH. Muhammād Zainuddīn Abdul Madjīd adalah anak bungsu dari enam bersaudara. Kakak kandungnya lima orang, yakni Siti Syarbini, Siti Cilah, Hajjah Sawdah, Hajji Muhammād Shabūr dan Hajjah Masyitah. Ayahandanya TGH. Abdul Madjīd yang terkenal dengan penggilan "Guru Mu'minah", semasa mudanya bernama Luqmānul Hakīm merupakan seorang muballigh dan terkenal pemberani. Beliau pernah memimpin pertempuran melawan kaum penjajah, sedangkan ibu Maulānāsysyāikh, Hajjah Halīmah al-Sa'dīyyah terkenal sangat shãlihah. Luqmānul Hakīm membawa Maulānāsysyāikh ke Mekkah untuk menimba ilmu agama ketika beliau berusia 9 tahun. Pendidikan Muhammād Zainuddīn Abdul Madjīd menuntut ilmu pengetahuan berawal dari pendidikan dalam keluarga, yakni dengan belajar mengaji membaca Al-Qur'ān dan berbagai 'ilmu agama lainnya, yang diajarkan langsung oleh ayahandanya, yang dimulai sejak berusia 5 tahun. Pendidikan Lokal Setelah berusia 9 tahun, ia memasuki pendidikan formal yang disebut Sekolah Rakyat Negara, hingga tahun 1919 M. Setelah menamatkan pendidikan formalnya, beliau kemudian diserahkan oleh ayahandanya untuk menuntut 'ilmu agama yang lebih luas dari beberapa Tuan Guru lokal, antara lain TGH. Syarafuddīn dan TGH. Muhammād Sa'īd dari Pancor serta Tuan Guru 'Abdullāh bin Amaq Dulajī dari desa Kelayu, Lombok Timur. Ketiga guru agama ini mengajarkan ilmu agama dengan sistem halaqah, yaitu para santri duduk bersila di atas tikar dan mendengarkan guru membaca Kitāb yang sedang dipelajari, kemudian masing-masing murid secara bergantian membaca. Pendidikan di Mekah Untuk lebih memperdalam 'ilmu agama, Muhammād Zainuddīn remaja kembali berangkat menuntut 'ilmu ke Mekah diantar kedua orang tuanya, tiga orang kemenakan dan beberapa orang keluarga, termasuk pula TGH. Syarafuddīn. Pada saat itu beliau berusia 15 tahun, yaitu menjelang musim Haji tahun 1341 H/1923 M. Sesampai di Tanah Suci, TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid langsung mencari rumah kontrakan di Suqullail, Mekah. Belajar di Masjid al-Haram Beberapa saat setelah musim haji usai, TGH. Abd. Madjid mulai mencarikan guru buat anaknya. Sampailah pencarian TGH. Abd. Madjid pada sebuah halaqah. Syaikh yang mengajar ditempat tersebut bernama Syaīkh Marzūqī, seorang keturunan 'Arāb kelahiran Palembang yang sudah lama mengajar mengaji di Masjīd al-Harām, yang saat itu berusia sekitar 50 tahun. Disanalah Maulānāsysyāikh TGKH. Muhammād Zainuddīn Abdul Madjīd diserahkan untuk belajar. Selain itu juga sempat belajar 'ilmu sastra pada ahli syair terkenal di Mekah, yakni Syaīkh Muhammād Āmīn al-Quthbī dan pada saat itu berkenalan dengan Sayyīd Muhsin Al-Palembanī, seorang keturunan 'Arāb kelahiran Palembang yang kemudian menjadi guru beliau di Madrasah al-Shaulatiyah. Ketika ayah TGKH. Muhammād Zainuddīn Abdul Madjīd pulang ke Lombok, ia langsung berhenti belajar mengaji pada Syaīkh Marzūqī, karena ia merasa tidak banyak mengalami perkembangan yang berarti dalam menuntut 'ilmu selama ini, hal itu dikarenakan kehausan beliau akan ilmu. Namun, sebelum sempat mencari guru, terjadi perang saudara antara kekuasaan dengan golongan Wahabi. Belajar di Madrasah al-Shaulatiyah Dua tahun setelah terjadinya huru hara tersebut, TGKH. Muhammād Zainuddīn Abdul Madjīd muda berkenalan dengan seseorang yang bernama Hajji Mawardī dari Jakarta. Dari perkenalannya itu ia diajak untuk belajar di madrasah al-Shaulatiyah, yang saat itu dipimpin oleh Syaīkh Salīm Rahmatullāh. Pada hari pertama masuknya ia bertemu dengan Syaīkh Hasan Muhammād al-Masysyāth. Madrasah al-Shaulatiyah adalah madrasah pertama sebagai permulaan sejarah baru dalam pendidikan di Arab Saudi. Madrasah ini sangat legendaris, gaungnya telah menggema di seluruh dunia dan telah menghasilkan banyak ulama-ulama besar dunia. Muhammad Zainuddin berhasil menyelesaikan studi dalam waktu hanya 6 tahun, padahal normalnya adalah 9 tahun. Dari kelas 2, diloncatkan ke kelas 4, kemubeliaun loncat kelas lagi dari kelas 4 ke kelas 6, kemubeliaun pada tahun-tahun berikutnya naik kelas 7, 8 dan 9. Perjuangan TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid belajar di Tanah Suci Mekah selama 13 tahun kemubeliaun kembali ke Indonesia atas perintah dari guru yang paling beliau kagumi, yakni Syaikh Hasan Muhammad al-Masysyath, pada tahun 1934. Setiba di Pulau Lombok beliau mendirikan Sekembali dari Tanah Suci Mekah ke Indonesia mula-mula beliau mendirikan pesantren al-Mujahidin pada tahun 1934 M. kemubeliaun pada tanggal 15 Jumadil Akhir 1356 H/22 Agustus 1937 M. beliau mendirikan Madrasah Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah NWDI. Madrasah ini khusus untuk mendidik kaum pria. Kemubeliaun pada tanggal 15 Rabiul Akhir 1362 H/21 April 1943 M. beliau mendirikan madrasah Nahdlatul Banat Diniah Islamiyah NBDI khusus untuk kaum wanita. Kedua madrasah ini merupakan madrasah pertama di Pulau Lombok yang terus berkembang dan merupakan cikal bakal dari semua madrasah yang bernaung di bawah organisasi Nahdlatul Wathan. Dan secara khusus nama madrasah tersebut beliaubadikan menjadi nama pondok pesantren 'Dar al-Nahdlatain Nahdlatul Wathan'. Istilah 'Nahdlatain' beliaumbil dari kedua madrasah tersebut. Al Mukkarram Maulana al-Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid sebagai ulama' pemimpin umat, dalam kehidupan bermasyarakt dan berbangsa telah mengemban berbagai jabatan dan menanamkan berbagai jasa pengabdian. Oleh karena jasa-jasa beliau itulah, maka pada tahun 1995 belau beliaunugerahi Piagam Penghargaan dan medali Pejuang Pembangunan oleh pemerintah. Disamping itu, al-Mukarram Maulana al-Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid selaku seorang mujahid selalu berupaya mengadakan inovasi dalam gerakan perjuangannya untuk meningkatkan kesejahteraan ummat demi kebahagian di dunia maupun di akhirat. Di antara inovasi/rintisa-rintisan beliau adalah menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran agama Islam di NTB dengan sistem madrasi, membuka lembaga pendidikan khusus untuk wanita, mengadakan ziarah umum Idul Fitri dan Idul Adha dengan mendatangai jamaah di samping didatangi, meyelenggarakan pengajian umum secara bebas, mengadakan gerakan doa dengan berhizib, mengadakan syafa'at al-kubro, menciptakan tariqat, yakni tariqat Hizib Nahdlatul Wathan, membuka sekolah umum disamping sekolah agama madrasah, menyusun nazam berbahasa Arab bercampur bahasa Indonesia, dan lain-alin. Karya Al-Mukarram Maulana al-Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid selaku ulama' pewaris para Nabi, di samping menyampaikn dakwah bi al-hal wa bi al-lisan, juga tergolong penulis dan pengarang yang produktif. Bakat dan kemampuan beliau sebagai pengarang ini tumbuh dan berkembang sejak beliau masih belajar di Madrasah Shaulatiyah Mekah. Namun karena banyaknya dan padatnya kegiatan keagamaan dan keasyarakatan yang harus diisi maka peluang dan kesempatan untuk memperbanyak tulisan tampaknya sangat terbatas. Kendatipun demikian di tengah-tengah keterbatasan waktu itu, beliau masih sempat mengarang beberapa kitab, kumpulan doa, dan lagu-lagu perjuangan dalam bahasa Arab, Indonesia dan Sasak. Wafat Tarikh akhir 1997 menjadi masa kelabu Nusa Tenggara Barat. Betapa tidak, hari Selasa, 21 Oktober 1997 M / 18 Jumadil Akhir 1418 H dalam usia 99 tahun menurut kalender Masehi, atau usia 102 tahun menurut Hijriah. Sang ulama karismatis, Tuan Guru Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, berpulang ke rahmatullah sekitar pukul WITA di kebeliauman beliau di desa Pancor, Lombok Timur. Tiga warisan besar beliau tinggalkan ribuan ulama, puluhan ribu santri, dan sekitar seribu lebih kelembagaan Nahdlatul Wathan yang tersebar di seluruh Indonesia dan mancanegara. Pada hari Kamis, 9 November 2017 bertempat di Istana Negara, beliau dianugerahi gelar Pahlawan Nasional, berdasarkan Keputusan Presiden Kepres Nomor 115/TK/Tahun 2017 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional. Empat tokoh yang dianugerahi Pahlawan Nasional oleh Presiden Joko Widodo yakni almarhum Tuan Guru Kiai Haji TKGH Muhammad Zainuddin Madjid asal Lombok Nusa Tenggara Barat, almarhumah Laksamana Malahayati asal Aceh, almarhum Sultan Mahmud Riayat Syah asal Kepulauan Riau, dan almarhum Prof. Drs. Lafran Pane asal Daerah Istimewa Yogyakarta.
Muita gente acha que o polêmico pastor Silas Malafaia tem apenas um filho, o também pastor Silas Filho. Na verdade esse é apenas um de três filhos que Malafaia tem com sua primeira e única esposa, a pastora Elizete Malafaia. Pelo fato de estar sempre a frente de trabalhos, Silas Filho acaba aparecendo muito mais, principalmente porque, ao que tudo indica, será dele a responsabilidade de dar continuidade ao legado do pai em alguns anos, então, nada mais comum do que ele estar sempre atuando, colocando em prática a liderança que vem aprendendo com o pai. Acontece que Malafaia preserva bastante suas filhas, tanto que raramente elas são vistas em suas redes sociais oficiais. Além do Silas Filho, são duas filhas moças; Thaisa Malafaia e Thalita Malafaia. Silas Malafaia e família Reprodução Silas Malafaia quase “quebrou” a internet em janeiro de 2017, quando sua esposa Elizete Malafaia publicou uma foto do casal aos beijos na piscina. A foto foi compartilhada milhares de vezes na web, e muita gente aplaudiu o casamento de quase 38 anos, resistindo ao tempo e com mais amor a cada dia.
Syekh Jumadil Qubro dilahirkan pada tahun 1349 M di sebuah daerah di Samarkand, Uzbekistan, Asia Tengah. Di sana beliau di didik dan dibesarkan oleh ayahanda Sayyid Zainul Khusen, sampai akhirnya beliau menikah dan dikaruniai tiga putra. Adapun ketiga putra beliau itu adalah 1. Sayyid Ibrahim Ibrahim As-Samarkhandi 2. Maulana Iskha’ 3. Sunan Aspadi yang dikawin oleh Raja Rum Datang Ke Chempa Pada sekitar tahun 1399 M. SILSILAH SYEKH JUMADIL KUBRO Sayyid Jumadil Kubro bin Sayyid Zainul Khusen bin Sayyid Zainul Kubro bin Sayyid Zainul Alam bin Sayyid Zainal Abidin bin Sayyid Khusen bin Siti Fatimah binti Rasulullah Muhammad SAW bin Abdullah bin Abdul Mutholib bin Hasyim bin Abdul Manaf bin Qushoyi bin Kilab bin Murota bin Kaáb bin Luayyi bin Gholib bin Fihri bin Maliki bin Nadri bin Kinana bin Khuzaimah bin Mudrika bin Ilyas bin Mudhoro bin Nizar bin Maad bin Adnan bin Uddi bin Udaida bin Mukowami bin Nakhuro bin Tairokhi bin Ya’rub bin Yasjub bin Nabit bin Ismail bin Ibrahim bin Tarokha bin Nakhuro bin Syarukho bin Arghu bin Falakho bin Abaro bin Syalakho bin Arfakhsan bin Sami bin Nuh bin Lamaka bin Mutawaslikh bin Idris bin Yarid bin Mahlail bin Qoinani bin Yanasy bin Syits bin Adam Alaihi Sholatuwassalam. KETURUNAN SYEKH JUMADIL KUBRO 1. Sayyid Jumadil Kubro dikaruniai tiga putra. Adapun ketiga putra beliau itu adalah Sayyid Ibrahim Ibrahim As-Samarkhandi Maulana Iskha’ Sunan Aspadi yang dikawin oleh Raja Rum 2. Sayyid Ibrahim Bin Jumadil Kubro menikah dengan Dewi Candrawulan Binti Raja Kuntoro Chempa mempunyai 2 orang anak Sayyid Ali Rahmatullah Sunan Ampel Sayyid Ali Murtadho Raja Pandhito R. Santri 3. Maulana Iskhak Bin Jumadil Kubro menikah dengan Raden Ayu Retno Kusumo Binti Raja Mundiwangi Pajajaran mempunyai 2 orang anak Sayyid Abdul Qodir atau disebut Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati Dewi Saroh Istri Sunan Kalijogo 4. Maulana Iskhak Bin Jumadil Kubro menikah dengan Dewi Sekardadu Binti Prabu Minak Sembuyu Blambangan mempunyai seorang anak bernama Raden Paku atau Sunan Giri 5. Sunan Aspadi tidak diketahui karena berada di Kerajaan Rum 6. Sayyid Ali Rahmatullah Sunan Ampel Bin Sayyid Ibrahim Bin Jumadil Kubro menikah dengan Dewi Candrawati Binti Ariyotejo Adipati Tuban mempunyai 5 orang anak Siti Sariáh Istri Haji Usman Sunan Manyuran Siti Mutmainnah Istri Sayyid Muhsin Siti Khofsoh Istri Sayyid Ahmad Sayyid Maqdum Ibrohim Sunan Bonang Raden Qosim Sunan Drajat 7. Sayyid Ali Rahmatullah juga menikah dengan Dewi Karimah Binti Ki Bang Kuning, mempunyai 2 orang anak Dewi Murtasimah Istri Raden Patah Dewi Murtasiyah Istri Sunan Giri 8. Sayyid Ali Murtadho Raja Pandhito Raden Santri Bin Sayyid Ibrahim As-Samarkhandi Bin Sayyid Jumadil Kubro menikah dengan Raden Ayu Maduretno Binti Prabu Ariyo Bariben mempunyai 3 orang anak Haji Usman Sunan Manyuran Mandalika Usman Haji Sunan Ngudung Nyai Gede Tundo Istri Sunan Kertoyoso 9. Sayyid Abdul Qodir atau disebut Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati Bin Maulana Iskhak Bin Sayyid Jumadil Kubro menikah dengan Dewi Haisah Binti Raden Jakender Sunan Malaka Madura mempunyai 2 orang anak Raden Abdul Jalil disebut Syeikh Siti Jenar tidak mau beristri Dewi Sofiyah Istri Raden Qosim Sunan Drajat 10. Sayyid Maqdum Ibrahim Sunan Bonang Bin Raden Rahmad Sunan Ampel Bin sayyid Ibrahim Bin Sayyid Jumadil Kubro menikah dengan Dewi Hiroh Binti Raden Jakender juga mertuanya Syarif Hidayatullah mempunyai seorang anak bernama Dewi Rukhilah Istri Sunan Kudus. 11. Raden Qosim Sunan Drajat Bin Raden Rahmad bin sayyid Ibrahim Bin Jumadil Kubro menikah dengan Dewi Sofiyah Binti Sunan Cirebon mempunyai 3 orang anak Pangeran Trenggono Pangeran Sandi Dewi Rouyan 12. Haji Usman Sunan Manyuran Bin Raja Pandhito Bin sayyid Ibrahim Bin Sayyid Jumadil Kubro menikah dengan Siti Sariah Binti Sunan Ampel mempunyai seorang anak bernama Amir Khasan 13. Usman Haji Sunan Ngudung Bin Raja Pandhito Bin Sayyid Ibrahim Bin Jumadil Kubro menikah dengan Dewi Sari Binti Tumenggung Wilatikta mempunyai 2 orang anak Dewi Sujinah Istri Sunan Muria Amir Haji Sayyid Ja’far Sodiq Sunan Kudus 14. Dewi Murtasimah Binti Sunan Ampel Bin Sayyid Ibrahim Bin Jumadil Kubro dinikah oleh Raden Patah Bin Kertawijaya Brawijaya mempunyai 5 orang anak Pangeran Purbo Pangeran Trenggono Raden Bagos Sedokali Raden Kenduruhan Dewi Ratih 15. Nyai Gede Tundo Binti Raja Pandito Bin Sayyid Ibrahim Bin Sayyid Jumadil Kubro dinikah oleh Khalifah Khusen Sunan Kertoyoso Madura mempunyai seorang anak bernama Khalifah Sughro. 16. Siti Mutmainah Binti Sunan Ampel Bin Sayyid Ibrahim Bin Sayyid Jumadil Kubro dinikah oleh Sayyid Muhsin dari Yaman beliau adalah murid Sunan Ampel atas perkawinannya mempunyai seorang anak bernama Amir Khamzah. 17. Siti Khofsoh Binti Sunan Ampel Bin sayyid Ibrahim bin Sayyid Jumadil Kubro dinikah Sayyid Ahmad Sunan Malaka beliau adalah murid Sunan Ampel, atas perkawinannya tidak mempunyai anak. 18. Raden Paku Sunan Giri Bin Maulana Ishak Bin Sayyid Jumadil Kubro kelahiran Blambangan menikah dengan Dewi Murtasiyah Binti Sunan Ampel mempunyai 4 orang anak Raden Prabu Raden Milyani Raden Kuwo Dewi Retnowati 19. Raden Sahid Sunan Kalijogo Bin Raden Sahur Tumenggung Wilatikta. Beliau adalah murid Sunan Ampel, menikah dengan Dewi Saroh Binti Maulana Ishak Bin Sayyid Jumadil Kubro, mempunyai 3 orang anak Raden Said Sunan Muria Dewi Rukoiyah Dewi Sofiyah 20. Raden Said Sunan Muria Bin Raden Sahid Sunan Kalijogo menikah dengan Dewi Sujinah Binti Usman Haji Sunan Ngudung Bin Raja Pandhito Bin Sayyid Ibrahim Bin Sayyid Jumadil Kubro mempunyai seorang putra bernama Pangeran Santri Sunan Kadilangu. 21. Raden Amir Haji atau disebut Sayyid Ja’far Sodiq Sunan Kudus Bin Usman Haji sunan Ngudung Bin Raja Pandhito Bin Sayyid Ibrahim Bin Sayyid Jumadil Kubro menikah dengan Dewi Rukhila Binti Sayyid Maqdum Ibrahim Sunan Bonang Bin Sunan Ampel Bin Sayyid Ibrahim Bin Sayyid Jumadil Kubro mempunyai seorang anak bernama Raden Amir Khasan. 22. Raden Sahur Tumenggung Wilatikta Tuban menikah dengan Dewi Nawang Arum Binti Ki Ageng Tarup mempunyai 2 orang anak Dewi Sari Istri Sunan Ngudung Raden Sahid Sunan Kalijogo 23. Raden Jakender Sunan Malaka Madura menikah dengan Dewi Nawang Sari Binti Ki Ageng Tarup mempunyai 2 orang anak Dewi Hisah Istri Sunan Gunung Jati Dewi Hiroh Istri Sunan Bonang 24. Prabu Kertawijaya Brawijaya I mempunyai istri banyak dan anaknya juga banyak sekali, namun yang terkenal dari istri Chempa mempunyai 3 orang anak Prabu Hadi Istri Adipati Doyoningrat Lembu Peteng Madura Raden Kukur Dari istri Ponorogo mempunyai anak Betoro Katong Ponorogo Ariyodamar Adipati Palembang Dari istri Chempo yang lain mempunyai anak bernama Raden Husen Raden Patah yang mendirikan kerajaan Islam Demak. Dari istri dari Bakilen mempunyai anak bernama Jaran Panoleh di Sampang Madura Wallohua'lam Bisshowab Jika ada kekurangan mohon beri kami masukkan. Sumber